MA Arifah Gowa terus mengukuhkan diri sebagai madrasah riset yang berorientasi pada penguatan budaya ilmiah peserta didik. Penetapan sebagai madrasah riset menjadi pijakan penting bagi MA Arifah Gowa dalam mengintegrasikan kegiatan penelitian ke dalam proses pembelajaran sehari-hari. Kepala MA Arifah Gowa, Ridzan Djafri, menjelaskan bahwa madrasah riset bukan sekadar label, melainkan arah kebijakan pendidikan yang menempatkan riset sebagai bagian inti dari pembelajaran.


Berita terkait;

“MA Arifah bukan sekolah tahfidz semata, tetapi madrasah riset berbasis digital. Riset menjadi ruh pembelajaran kami, khususnya dalam pengembangan sains, literasi, dan nalar kritis siswa,” ujar Ridzan Djafri.

Sebagai madrasah riset, MA Arifah Gowa mendorong peserta didik untuk tidak hanya menerima materi pelajaran, tetapi juga aktif mengamati, menganalisis, dan menuangkan gagasan dalam bentuk karya ilmiah. Model pembelajaran berbasis proyek, inkuiri, dan pemecahan masalah diterapkan secara bertahap sesuai dengan karakteristik mata pelajaran.

Ridzan Djafri menambahkan bahwa penguatan riset di MA Arifah Gowa didukung oleh peran guru sebagai pembimbing riset. Guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mendampingi siswa dalam menyusun proposal penelitian, melakukan pengolahan data sederhana, hingga mempresentasikan hasil penelitian.

“Kami ingin membangun budaya akademik di madrasah. Siswa dibiasakan berdiskusi, menulis, dan mempresentasikan hasil risetnya. Ini menjadi bekal penting bagi mereka ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” tambahnya.

Berbagai program pendukung riset telah dijalankan di MA Arifah Gowa, di antaranya ekstrakurikuler riset, klinik penulisan karya tulis ilmiah, serta keikutsertaan aktif siswa dalam berbagai kompetisi riset, baik di tingkat daerah maupun nasional. Program tersebut mendapat antusiasme tinggi dari peserta didik.

Menurut Ridzan, pengembangan madrasah riset juga sejalan dengan transformasi digital yang diterapkan di MA Arifah Gowa. Pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran, pengelolaan administrasi, dan literasi digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penguatan riset.

“Digitalisasi memudahkan siswa mengakses referensi, mengolah data, dan menyajikan hasil penelitian. Ini menjadi keunggulan sekaligus kebutuhan madrasah di era sekarang,” jelasnya.

Melalui penguatan sebagai madrasah riset, MA Arifah Gowa berkomitmen untuk melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam akhlak dan keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan ilmiah. Dengan demikian, madrasah diharapkan mampu berkontribusi nyata dalam mencetak generasi yang siap bersaing dan berperan aktif di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

By Arifah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *